Catatan Perjalanan 13.11.2017

Catatan Perjalanan 13.11.2017

CATATAN PERJALANAN :

Berkunjung Ke Eru (Elephant Responses Units), Kamp Mitigasi Konflik Gajah-Manusia

 

Sekitar bulan November, tahun 2016 lalu, beberapa dosen Biologi dan dosen dari program studi lain berkesempatan mengunjungi ERU (Elephant Responses Units) Tegal Yoso. Sebenarnya kunjungan ini merupakan ketidaksengajaan yang disebabkan gagalnya rombongan dosen-dosen ITERA menuju lokasi utama festival gajah di Way Kambas. Jam memang sudah lewat waktu Dzuhur ketika rombongan baru ingin mulai memasuki pintu masuk TNWK. Jangankan berhasil berfoto-foto bersama gajah, baru sampai pintu masuk saja mobil kami terjebak kemacetan akibat padatnya kendaraan yang akan masuk dan akan keluar dari lokasi. Kemacetan dan penumpukan kendaraan tidak bisa dihindarkan. Para petugas sibuk mengatur kendaraan baik motor maupun mobil, dengan menyetop pengunjung yang baru datang agar tidak melanjutkan perjalanan. Walhasil kami pun memutuskan untuk putar balik, yang artinya kami harus menghapus keinginan untuk berfoto ria bersama gajah dalam festival hari terakhir di TNWK tersebut. Sampai disini masih berpikir apakah gajah-gajah itu tidak stress ya dengan banyaknya pengunjung dan silaunya kilatan flas kamera? Padahal seharusnya mereka hidup bebas di alam jauh dari gemerlap kilatan flash kamera (–udah kayak selebritis aja yak? Hahaha. . . -)

Setelah bersusah payah atur posisi, akhirnya kami berhasil keluar dari jebakan kemacetan tersebut. Kecewa tentu saja, namun beruntung berkat salah satu rekan dosen yang memang berdomisili di dekat kawasan TNWK merekomendasikan agar kami mengunjungi ERU Tegal Yoso. ERU Elephant Responses Units merupakan sebuah kamp mitigasi konflik gajah-manusia yang masih berada di kawasan TNWK. ERU ini telah ada sejak tahun 2012. Keberadaan ERU diinisiasi akibat adanya konflik gajah-manusia yang terjadi disektar kawasan tersebut. Sudah sejak lama kasus konfrontasi antara manusia dan gajah berlangsung.

Konflik antara manusia-gajah ini bermula akibat pembukaan dan okupansi lahan oleh manusia. Pemberian hak pengusahaan hutan pada kurun waktu 1968-1974 menyebabkan bertambahnya pendatang yang membuka lahan di daerah TNWK. Hal ini berdampak pada kerusakan habitat yang cukup berat. Akibatnya daerah jelajah (home range) gajah-gajah liar menjadi terbatas, sehingga pakan mereka pun menjadi berkurang. Pada kurun waktu 1984-1996 tercatat sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal dan 9 orang lainnya terluka di 11 desa dekat TNWK. Selain korban manusia, hal yang memprihatinkan adalah banyaknya gajah yang menjadi korban. Kasus kematian gajah kian hari kian meningkat, salah satunya gajah yang dimasukan ke dalam lubang kemudian dibakar hidup-hidup oleh penduduk desa. Kasus kematian gajah lainnya yaitu dengan cara diracun. Padahal gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) saat ini sudah tidak banyak lagi jumlahnya. TNWK sendiri merupakan habitat dari kurang lebih 200 gajah sumatera atau 10% dari total populasi yang diperkirakan tidak lebih dari dari 2000 ekor. Spesies ini telah terdaftar dalam red list IUCN dengan status terancam punah, sementara CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) telah mengkategorikan gajah Asia dalam kelompok Appendix I.

Petualangan dimulai sejak pertama kali memasuki jalan menuju lokasi. Jalan rusak berbatu menemani sepanjang perjalanan. Di kanan kiri tampak rumah-rumah yang jaraknya agak berjauhan. Lokasi tujuan ternyata masih harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati ladang jagung dan menyebrangi sungai, artinya kami harus menaiki semacam sampan kecil.

Menyebrangi sungai sebelum mencapai kamp ERU

Sampan kayu ini memuat sekitar 5-6 orang sekali menyebrang. Karena tanpa motor listrik, kami dibantu oleh 2 orang penarik sampan untuk sampai ke tepi sebrang. Selain arus sungai cukup deras, sampan yang kami naiki juga tanpa kayu penyeimbang sehingga kami lah para penumpag yang harus menjaga keseimbangan agar sampan tidak terbalik. Sampai di tepi sebrang, kami masih harus berjalan sekitar 200 meter. Barulah kita akan menemukan sebuah kamp yang bernama Elephant Responses Units (ERU).

Rombongan Dosen ITERA setelah sampai di Kamp ERU Tegal Yoso

 

Para penjaga kamp menyambut kami dengan ramah, dan menjelaskan mengenai gajah yang ada. Terdapat 6 gajah penjaga yang sudah dilatih oleh pawang gajah untuk menggiring gajah liar lain apabila mereka keluar kawasan dan masuk ke daerah perkebunan atau pemukiman penduduk.  Kebetulan ketika kami sampai di kamp, keenam gajah penjaga itu sedang “bermain”. Namun tidak lama kemudian, salah seorang pawang memandu 6 gajah penjaga kembali ke kamp. Aktivitas selanjutnya setelah mereka bermain adalah mandi sore di sungai dekat kamp. Aktivitas ini tidak kami sia-siakan dengan merekam keseruan para gajah mandi dan bermain air.

Dosen ITERA merekam keseruan para gajah mandi dan bermain air.

Keenam gajah penjaga itu memang sudah benar-benar terlatih, sehingga seolah-olah mengerti perintah apa yang diucapkan oleh pawangnya. Interaksi para gajah ini dengan manusia terbilang intens sehingga mereka nampak ramah terhadap pengunjung seperti kami. Tugas para gajah penjaga ini sungguh unik, karena mereka akan berperan sebagai media mitigasi dalam konflik antara gajah dan manusia. Pemberdayaan gajah untuk melakukan patroli kawasan ini dimaksudkan dalam rangka mengurangi tindakan refresif terhadap gajah liar yang notabene “mengganggu” penduduk sekitar. Upaya penanganan konflik manusia-gajah memang telah dilakukan oleh stakeholders di TNWK seperti pembuatan kanal, pagar cabai, pemasangan pagar listrik dan pembangunan gubuk jaga. Namun hampir seluruhnya akan menimbulkan trauma fisik dan psikologis bagi gajah-gajah liar lainya. Maka dari itu dilakukanlah sebuah upaya yang lebih “berperi kehewanan”, yaitu patroli gajah dengan melibatkan gajah terlatih lainnya.

Berfoto bersama dengan Gajah pintar yang telah terlatih

 

Sebagai satwa megaherbivor, gajah membutuhkan jumlah makanan harian (daily intake) yang banyak serta habitat yang luas. Gajah akan bergerak mencari makanan di daerah lain sekitar habitatnya apabila ketersediaan makanan dalam habitat tidak mencukupi kebutuhan hariannya. Sebagai daerah tujuan transmigrasi, Lampung termasuk daerah sekitar TNWK tentu kedatangan banyak manusia. Pertumbuhan dan perkembangan populasi manusia seringkali mendesak habitat satwa liar, yang pada akhirnya memberikan dampak negative bagi kehidupan mereka termasuk gajah. Jika selama ini gajah-gajah itu disebut sebagai perusak dan pengganggu yang ganas, lalu sudikah manusia di cap sebagai perebut habitat dan pembunuh?

Siapakah pengganggu? Siapakah perusak? Siapakah yang “liar” dan “ganas” sesungguhnya?

(Author: YA. disarikan dari berbagai sumber)

Leave a Reply