
Dosen dan Mahasiswa Program Studi Biologi ITERA Raih Travel Grant LMI-SIR 2026, Presentasikan Riset Ketangguhan Masyarakat Pulau Sebesi di Banda Aceh
Lampung Selatan, 16 Oktober 2026 – Yanti Ariyanti, dosen sekaligus Koordinator Program Studi Biologi, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), terpilih sebagai penerima travel grant (pendanaan perjalanan) dari Laboratoire Mixte International – Indonesian Subduction and Associated Risks (LMI-SIR) Project. Pendanaan ini diberikan untuk mendukung kehadirannya sebagai presenter yang mewakili tim ITERA dalam konferensi internasional 5th Annual Meeting LMI-SIR 2026, yang akan berlangsung pada 26–30 Oktober 2026 di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.Pemberitahuan resmi penerimaan pendanaan disampaikan panitia LMI-SIR melalui surel pada 13 Oktober 2026. Melalui skema ini, seluruh kebutuhan tiket perjalanan dan akomodasi peserta terpilih akan diatur langsung oleh panitia penyelenggara.
Dalam konferensi tersebut, Yanti Ariyanti akan mewakili tim mempresentasikan secara oral (oral presentation) makalah berjudul “Perceived Community Resilience Near Mount Anak Krakatau: A Case Study of Sebesi Island, Indonesia”. Materi yang dipaparkan adalah preliminary study (studi pendahuluan) mengenai indeks resiliensi masyarakat Pulau Sebesi, yang merupakan salah satu hasil kegiatan Ekspedisi Krakatau ITERA Scientific Expedition and Exploration (I-SEE) 2025, Fakultas Sains ITERA. Studi ini mengkaji persepsi ketangguhan masyarakat yang tinggal di Pulau Sebesi, wilayah yang berada di dekat Gunung Anak Krakatau dan rentan terhadap ancaman erupsi gunung api maupun tsunami.
Makalah ini ditulis oleh tim yang terdiri atas Yanti Ariyanti, dosen Biologi Novriadi, dosen Program Studi Farmasi Syaadatun Nadiah, serta dua mahasiswa Biologi, Syahidan Syaean Tasib dan Salwa Mozart.
“Kami sangat bersyukur atas kepercayaan yang diberikan panitia LMI-SIR. Pulau Sebesi adalah wilayah yang hidup berdampingan dengan risiko Gunung Anak Krakatau, sehingga memahami bagaimana masyarakatnya memandang ketangguhan mereka sendiri sangat penting untuk upaya mitigasi ke depan. Forum ini menjadi kesempatan berharga untuk mendapatkan masukan dari peneliti kebencanaan berbagai negara,” ujar Yanti Ariyanti.
Konferensi LMI-SIR 2026 menjadi forum ilmiah internasional di bidang kebencanaan yang diikuti peserta dari delapan negara, yaitu Indonesia, Prancis, Hungaria, Kenya, Filipina, India, Swedia, dan Singapura. Berdasarkan data panitia, tercatat 125 peserta konferensi, 154 pendengar (listener), dan 160 peserta pelatihan. Sebanyak 44 abstrak telah diterima, terdiri atas 32 presentasi oral dan 12 presentasi poster.
Topik yang diangkat dalam konferensi meliputi gempa bumi dan tektonik, bahaya dan mitigasi tsunami, mitigasi erupsi gunung api, hingga bencana berantai (cascading hazards). Selain sesi konferensi, kegiatan ini juga dilengkapi pelatihan akademik, antara lain terkait longsor, metode geologi, dan antropologi sosial kebencanaan. Dalam sesi yang sama, tim ITERA tampil bersama pemakalah dari lembaga lain, seperti Center for Environmental Economics of Montpellier (Prancis) dan IPB University.
Menurut Yanti, capaian ini juga bermakna bagi program studi. “Raihan travel grant ini menunjukkan bahwa riset dosen dan mahasiswa Biologi ITERA relevan dengan isu global, termasuk kebencanaan dan ketangguhan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa sejak tahap penelitian adalah pengalaman belajar yang tidak didapatkan di ruang kelas. Kami berharap capaian ini memotivasi dosen dan mahasiswa lain untuk terus berkarya dan aktif di forum ilmiah internasional,” tuturnya.
Capaian ini menjadi bukti bahwa riset dosen dan mahasiswa Biologi ITERA mampu bersaing dan mendapat pengakuan di forum ilmiah internasional, khususnya dalam kajian ketangguhan masyarakat terhadap bencana di wilayah Sumatera bagian selatan. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga diharapkan dapat memperluas wawasan dan jejaring akademik mereka di tingkat global.

Tag:#biologiitera, #itera, #iteranews



